Tampilkan postingan dengan label Pena Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pena Jiwa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 November 2013

Pesan Cinta Untukmu Ukhti : Yang Kami Panggil Bidadari Semesta

Assalamu'alaiki yaa ukhti fillah al-mahbuubah ...
Alhamdulillah buku kami sebagai persembahan cinta untuk sesama kaum hawa telah hadir. Bertajuk " Pesan Cinta Untukmu Ukhti " Berisi kumpulan cerpen dan puisi yang insya Allah menggugah hati. Ahlan yang ingin pesan bisa menghubungi penerbit Asrifa :).
Dan salah satu contoh puisi cinta kami untuk akhawat adalah ini :)
Yang Kami Panggil Bidadari Semesta
Goresan Pena : Lina Dewanto

Duhai  Bidadari Semesta, masih ingatkah ?
Setiap detik mengumpulkan menit dan menit  menghimpun jam.
Ribuan titisan Hawa menyambung nafasnya di dunia.
Persinggahan sementara yang menawarkan telaga Kautsar ataukah fatamorgana dunia.
Siapa aku ? Siapa engkau ?
Penduduk langit dan bumi menyeru kita  ‘Duhai Bidadari Semesta !’

Duhai Bidadari Semesta, kemarilah !
Kita dengarkan seruan langit…menyanjung aku dan kau,
‘’Rupamu seumpama Mariah Al-Qibtiyah,
penaka bermata yakut , maka sucikanlah ia dengan ayat-ayat-Nya.
Lidahmu adalah pusaka marjan, maka kibaskan ia dengan lantunan kebaikan.
Bubuhkan jilbab terjulur sebagai mahkotamu , tolaklah pakaian jahannam.
Pesona tubuhmu tak pantas kau pasarkan pada mata-mata nakal di jalanan.
Sungguh mengerikan mereka yg kelak dicambuk
karena menggadaikan tubuh indahnya, menyuguhi mereka lenggokan lekuk badanmu.
Dan janganlah tanggalkan cermin hatimu, karena pengejawantahanmu terlahir darinya!”
Duhai Bidadari Semesta, Sang Pemilik Keindahan telah memilih kita.
Menghadiahkan adnan yang sempurna tak ternilai.
Kemah-kemah mutiara tersimpan kokoh disana menanti jiwa raga suci pemiknya.
Gelang perak, sutera menambah keanggunan gaun kita.
Bahkan menambatkan kita pesona hati.
Karena bagi-Nya tak ada ragu dalam sempurna cipta rupa manusia.
Dan…jika aku dan kau bertanya ‘Mengapa ?’
Karena kita adalah Bidadari Semesta ,

yang hanya pantas bertahta di Surga-Nya.
Baca Selengkapnya... Read More..

Rabu, 11 September 2013

Pemikat Jiwa


 ‘Merona…’ ia kah yang menempati hatimu ? sehingga hatimu pun ikut merona ?
‘Kesyahduan…’ ia kah yang teriring dalam hatimu ? Sehingga turut hati bertutur syahdu, berlinang haru ?
‘Cinta…’ ia kah yang terkotak dalam wujudnya? Sehinggga tiada dirinya, maka tiada cinta?
‘Kebaikan…’ ia kah yang menjadi sandaran hatimu? Sehingga merana, menghiba hatimu padanya?
                Pertanyaan tiada berkesudahan merenggut fikiran seorang hamba. Kian persoalan merapat pada Yang Dihamba, maka semakin jelaslah, mengapa dan siapa pada hakikatnya.
Layaknya, permintaan hati seorang hamba yang tetap ingin hatinya sehat. Yaitu suatu kondisi yang mampu membuatnya terbebas dari celah-celah kemaksiatan.
atau, layaknya permintaan hati seorang hamba yang ingin hatinya menjadi salah satu mahar ke Syurga-Nya.
Namun, bagaimanakah ?

                Tersebutlah… Pemikat Jiwa.
 Siapakah engkau duhai Pemikat Jiwa?  yang telah banyak meronakan hati, mengalirkan kesyahduan, membangkitkan cinta, menyemai kebaikan…
Siapakah engkau duhai Pemikat Jiwa? yang mampu menghitung nafas-nafas kami, menemani kami disaat kami terbuang zaman, merangkai padu pada lautan kesejatian hidup…
Siapakah engkau duhai Pemikat Jiwa? yang telah memilihkan kami cinta hakiki, agar kami tiada buta oleh cinta-cinta, agar kami tidak merayukan cinta…
Siapakah engkau duhai Pemikat Jiwa…?
Allah,
Bermuara tanya pada-Mu,
Dan satu jawab dari-Mu, Cinta-Mu telah memikat kami. Meski kelalaian mengejapkan mata, atau telinga mendengar ketulian, namun fitrah hati kami berujar…Cinta-Mu…
Maka, izinkanlah seluruh jiwa seorang hamba pada-Mu berdzikir,
“Yaa Allah Engkau telah memberikan cinta keluarga, kerabat, rekan-rekan meski terkadang kami jarang memintanya, maka janganlah Engkau jauhkan dari kami cinta-Mu padahal kami teramat sering memintanya…
Yaa Allah…berilah kami cinta-Mu, dan cinta orang yang cintanya memberi kebaikan pada kami disisi-Mu.Yaa Allah… apa yang Engkau berikan pada kami dan kami cintai, maka jadikanlah itu kekuatan bagi kami untuk melakukan apa-apa yang Kau cintai…
Yaa Allah.. apa yang Engkau jauhkan dari kami  atas apa yang kami cintai, maka jadikanlah itu kelapangan kami mendapatkan apa- apa yang Engkau cintai…
”
Duhai Hati  seorang hamba, ingatlah hadits istimewa ini, semoga membuat hatimu selalu terpikat pada-Nya, menjadikan penutup celah-celah kemaksiatan, bahkan lebih dari itu….
Semoga menjadikan hatimu sebagai mahar ke Syurga-Nya.
“Allah memberikan dunia pada yang Dia cintai dan yang Dia benci. Tetapi Dia tidak memberikan kesadaran beragama, kecuali kepada yang Dia cintai. Maka barangsiapa diberi kesadaran beragama oleh Allah, berarti ia dicintai oleh-Nya” (HR. Imam Ahmad, Al-Hakim dan Baihaqi)
               
- Bumi Impian, 21 Oktober’12 -


Baca Selengkapnya... Read More..

Minggu, 03 Februari 2013

Malaikat-Malaikat-Nya


“Ketika tak adanya penyejuk mata, pemanja rasa siapakah yang dititipkan oleh Allah untuk menjaga?  

ketika bising dunia terlalu memekakkan telinga, siapakah yang menjadi tempat nasihat yang syahdu?

ketika mentari hilang dari peraduannya, malam-malam menjadi tersepi, siapakah yang akan menerangi?

ketika kelelahan akibat pendakian, yang terlihat hanyalah tikungan terjal, siapakah menjadi tempat istirahat?

ketika panas tubuh memerahkan pipi, tulang-tulang melemah, siapakah yang mendekap ,merawat dengan lembut?

ketika jurang syeitan mencoba mendekati, bersiap untuk menyesatkan, siapakah yang menghalau dan mengingatkanmu?

Bahkan ketika jarak membentang teramat jauh, terpisahkan benua dan samudera sekalipun, siapakah yang tetap setia berdoa menyelipkan nama ini menjadi doa yang utama sehingga mengharapkan yang terbaik?”     

Maka Sang Pemilik jiwa ini menitipkan malaikat-malaikat-Nya bernama keluarga. Yang siap menjaga, menasihati, menopang, menyelipkan nama ini disetiap kidung doa mereka. Bahkan lebih dari itu. Memikirkan harimu , esokmu dan saterusnya….

(Bumi Impian, 26 Januari 2013)
Baca Selengkapnya... Read More..

Terrace



Sejak kata-kata berjatuhan, yang terdalam,
maka tak terhitung purnama terrace merajai.
Mengapa terrace begitu indah dinda?

Sejak pena-Nya, yang terdalam,
maka melekat tak menjemukan
mari saling mengartikan…
bukankah terrace menjadi saksi bisu?

kemudian, pada terrace
seperti biasa
segelas susu coklat dan roti bakar
ku sediakan hanya untukmu



(Bumi Impian, 19 Jan'13)
Baca Selengkapnya... Read More..