Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Desember 2013

Menggapai Impian : Aku dan Negeri Seribu Menara


Assalamu'alaikum wr wb,

 Ikhwah fillah dimanapun antum berada, semoga semangat merangkai cita-cita hingga menggapai Firdaus-Nya kian hari kian berkobar. Alhamdulillah telah hadir karya kami bersama  dan dibantu oleh Penerbit Asrifa yaitu "Menggapai Impian (Dream, Believe, and make it Happen)"
Apa yang kami sajikan disana adalah kisah nyata penulis dan beberapa puisi. Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua dan penambah amal jariyah kami. 

Ohya, salah satu contoh kisah nyatanya adalah ini


 "Aku dan Negeri Seribu Menara" 
Goresan Pena: Lina Dewanto


“Bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah dan jangan merasa tidak mampu " Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim ini selalu bergelayut dipikiranku. Seumpama sebuah nutrisi ruhani yang membisikan pada diri "Ayo…kamu pasti bisa ! Jangan takut! Ingatlah, Allah selalu bersama para pejuang ! "
Bermula pada sebuah pohon impian yang ku gambar. Aku masih berusia 15 tahun kala itu. Seperti biasa setiap seminggu sekali aku dan teman-teman rohis mengikuti mentoring keislaman di sekolah ku. Pada hari itu, kakak mentorku mengajak kami untuk memiliki rencana-rencana yang jelas dalam meraih cita-cita. Karena sudah sepatutnya seorang muslim memiliki visi dan misi yang kokoh agar ia tidak terombang-ambing arus dunia. Aku tuliskan bahwa aku ingin paham Al-Quran dan hadits. Bagiku meskipun aku bersekolah di sekolah negri tapi tak ada halangan untuk setiap muslim paham Islam. Apalagi fasilitas untuk mengetahui keilmuan semakin banyak.
Maka ku perjelas impian itu. ‘Dimana dan kapan’ kah aku harus menempuhnya. Setelah dua tahun mengikuti les Bahasa Arab, banyak ustadz menyarankan agar aku menempuh cita-cita di Universitas Al-Azhar. Univesitas tertua di dunia yang banyak melahirkan ulama-ulama hebat. Universitas tersebut letaknya di Mesir. Pastinya sangat jauh dari rumahku. Mesir sangat istimewa sehingga dijuluki Negeri Seribu Menara. Dikarenakan disana banyak berdiri masjid-masjid dan memiliki banyak pengajaran Islam. Tentunya yang bisa masuk kesana telah melewati rangkaian tes yang tidak biasa. Sempat hati berujar ‘Bisakah diri ini seperti mereka yang telah lama di pesantren. Yang tentunya telah mahir dengan muhaddatsah (percakapan), dan yang paling penting telah mahir qiroah (baca) buku-buku bahasa arab gundul ?’ Meski banyak kehawatiran yang berkecamuk di hati, akhirnya ku mantapkan hati dan berusaha memantaskan diri untuk bisa berkuliah  di Universitas Al-Azhar pada tahun 2011.
Usai bangku sekolah di SMA pada tahun 2010, ku melanjutkan pemahaman bahasa arab di Ma’had Al-Imarat. Disanalah doaku dikabulkan oleh-Nya. Aku diperkenalkan lembaga yang bisa membantuku dalam menempuh perjalanan panjang ini. Tepat di akhir tahun 2010, ku mendaftarkan diri di MUMTAZA yaitu lembaga perjalanan ke luar negeri yang membantu anggotanya untuk mudah dalam menjalani tes masuk Univ. Al-Azhar. Selain itu doa yang Allah kabulkan adalah, aku tidak perlu mengikuti UN di salah satu pondok pesantren lantaran ijazah SMA ku pada tahun 2011 sudah bisa diterima. Bulan Mei ku mendapatkan kabar bahwa akan ada tes masuk beasiswa Univ. Al-Azhar di Kedutaan Besar Mesir di Jakarta. Dengan bekal seadanya maka ku beranikan diri mengikuti tes. Tes ini aku jalani agar aku mengetahui sudah sejauh apakah kemampuanku.
Subhaanallah, setelah selesai mengikuti tes tersebut serasa ada lecutan baru dalam menapaki cita-cita. Meskipun belum ada pengumuman hasil tes tersebut namun mengingat pemandangan ratusan orang-orang yang berduyun-duyun agar bisa lolos tes masuk, para syeikh yang ramah membuat ku ingin segera bergegas paham materi-materi yang akan diujikan di tes masuk non-beasiswa berikutnya. Ku perketat waktuku dengan banyak membaca, dan menghapal Al-Quran. Beberapa bulan kemudian setelah banyak mencari info perkuliahan lewat jejaring sosial tiba-tiba ada berita yang nyaris membuat ku putus asa. Karena kemelut Mesir akibat menurunkan Presiden Mubarok belum usai sehingga Mesir masih memanas, tes masuk non-beasiswa yang harusnya dilaksanakan antara bulan Juni dan Juli diundur entah kapan.
Sejak saat itu ku menuliskan doa agar Kemenag segera melaksanakan tes yang diundur tersebut di Note Facebook dan menge-tag rekan-rekan seperjuangan dan orang-orang shalih yang ku kenal. Alhamdulillah banyak yang memberikan doa. Sampai masa itu tiba tepat sebelum ujian tanggal 12 September 2011 kami anggota MUMTAZA dikarantina selama seminggu untuk menerima pengarahan dan pemantapan tes masuk. Jumlah kami 30 orang dan diantara mereka semua rasanya diri ini yang paling tidak tahu apa-apa. Masya Allah aku kagumi mereka. Ada yang pernah mencoba tiga kali tes masuk, ada yang telah merayu orang tuanya sedemikian rupa agar diizinkan, ada yang harus membuat proposal bantuan biaya dahulu dan sebagainya. Keluargaku pun bukan termasuk golongan yang mudah mengeluarkan uang Rp 10.500.000 sebagai biaya akomodasi dan lainnya. Namun ku yakini jika ku lolos pastinya Allah sudah menyiapkan rizki akomodasi dan kebutuhan ku disana.
Usai ku mengerjakan tes ada kehawatiran karena tes ke dua rasanya banyak jawaban yang belum sempat terjawab lantaran waktu yang begitu singkat. Selama menunggu hasil tes, ku pasarahkan pada Allah. Kemudian di sore hari...........................*

Untuk mengetahui kisah lengkapnya, dan kisah hebat lainnya silahkan pesan ke Penerbit Asrifa ya :)

Baca Selengkapnya... Read More..

Rabu, 23 Oktober 2013

Janji-Mu


            Dakwah ini kembali diguncang. Dijadikan kehinaan, disikut oleh para zhalimiin yang geram dengan mereka yang tidak berharta banyak namun senantiasa bisa memakmurkan orang lain. Yang murka pada mereka saat tangan-tangan sederhana mampu menyelamatkan perdagangan kemiskinan. Bahkan merekapun mulai gusar  tatkala pemimpin hebat itu dikaruniai pandangan jauh sehingga segala kebobrokan zhalimin mulai mencuat. Demi menutupi kebusukan munculah strategi kotor para pendusta itu.  Mantel jabatan, situs-situs ‘keren’ memanipulasi data hingga seolah-olah tak ada kebenaran yang tersisa. Kerjasama kebathilan menjadi trend yang tak berujung. Mewarisi tawa diatas penderitaan orang lain.”Asalkan kami kaya, tak apa yang lain miskin, kami harus menang mereka harus menderita”
“Sampai kapan sihir mereka berakhir?” Ujar seutas hati. Ah, tersadarlah ia bahwa bukan hanya sekarang saja pergolakan umat ini diuji. Dari mulai penggergajian tubuh seorang hamba shalih, perebusan keluarga dakwah dalam air mendidih sudah kami ketahui. Darisanalah permulaan para ahli zhalim mulai mengkafirkan pemikiran masyarakat.  ‘Lihatlah, risalah Islam membuat mereka menderita !! Lihatlah, mereka lemah !!’  Teriak si penggergaji dan perebus orang-orang shalih.  Darisana makian mereka belum berakhir. Bahkan ketika wafat para khalifah Allah, ketakaburan mereka semakin menjadi-jadi . “Lihatlah pengikut Muhammad berakhir seperti mereka! Terbunuh…tertindas oleh kami. Siapa yang masih percaya Muhammad??”
Lalu, apakah teriakan mereka bermanfaat? Hebatnya Allah, semakin mereka berteriak, semakin banyak pengikut setia Nabi Muhammad. Semakin sering umat diperangi, maka tak henti para Mujahid-Nya berjuang, melahirkan mujahid-mujahid baru yang setia. Allahu Akbar!!
Ah, ternyata kuat sekali visi dan misi mereka. Tidak lagi dengan gergaji dan air yang mendidih. Penyiksaan bertubi-tubi dilakukan dengan tayangan, mode yang menggiurkan, pencucian pemahaman dan lainnya. Lihatlah busana yang dikatakan islami itu!Pernahkah diperiksa apa benar yang melabelkan benar-benar bermaksud Islami? Lihatlah makanan-makanan yang dikatakan bergizi itu! Waspadai kehalalannya kalau engkau masih berminat masuk Surga! Lihatlah berita itu! Benarkah sumbernya? Lihatlah following, tweet dan retweet pemahaman anak muda sampai orang tua jaman sekarang. Mulai memisahkan agama dari sekolah, menjadikan kebenaran seolah-olah relatif! Na’udzubillah min dzalik.
Ya, Allah…kami memohon ampun-Mu lantaran kelemahan kami, umat tanpa sadar diinfeksi oleh virus kekafiran. Namun dari kelemahan kami ini terdapat sumber kekuatan untuk selalu bersandar pada-Mu. Darisanalah kami selalu tersadarkan bukan karena kami, hidayah itu turun. Namun hanya Engkaulah yang bisa meluruskan mereka. Dari kelemahan kami pula kami selalu ingin berjaga, merapatkan barisan, menguatkan strategi, meraup segala ilmu agar mendapatkan kunci pemudah, agar tidak terbodohi oleh semak kebencian mereka.
                Benarlah decak kagum para ulama ketika mengkaji para Nabi Allah, para khalifah Allah, para da’i. Yang ‘terlihat’ mengenaskan demi memperjuangkan kebenaran telah kehilangan anaknya, mendekam di penjara, menjadi buronan penguasa zhalim, kehilangan keluarga, difitnah, dibunuh. Namun mereka tidak mengeluh. Mereka yakin bahwa iman kepada Allah memang menghendaki perjuangan, pengorbanan yang tidak sia-sia dan keteguhan hati. Mereka tidak terlalu menuntut kemenangan lahir, karena yang penting adalah kemenangan bathin. Mereka memikul beban berat namun mulia dan berbuah keindahan abadi. Semakin mereka mencintai Allah, mereka semakin membuktikan pada Allah dengan segala amalan yang terbaik. Semakin mencintai jalan ini semakin yakin pulalah pada janji-Mu. Hanya janji-Mu lah yang menenangkan kami.
‘Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan’At-Taubah :20.
Indonesia, Dalam penuh harap

                
Baca Selengkapnya... Read More..

Rabu, 11 September 2013

Sepanjang Perjalanan


Ku bisikan padamu…
rindu menyala menggebu
menggamit kalbu agar segera bertemu.
Biarpun lelah mengundang airmata…
Biarpun tersiksa menapaki paruh waktu…
pada jalan ini, semoga ucap-Mu pada mereka kelak hadiah untukku jua :
“Selamat atas kecintaanmu menjadikanmu bersama Ahli Surga”

            Sekian jam, menit, detik merekam bisu perjalanan ini. Lima tahun lalu jiwa dan raga terpisahkan cukup lama. Jiwa mencari mereka yang telah lama berpijak dalam kenikmatan tiada  akhir. Sedangkan raga masih tetap diam, tak paham pada hakikat mengapa setiap sel harus ada. Ku pandangi mereka dalam memoar-memoar  pinus. Urat-urat yang tak pernah istirahat, denyut nadi yang selalu berdzikir, mata yang tak pernah benar-benar terlelap. Allah… bisakah aku seperti mereka? Yang disinyalir  jadi hamba-mu yang khusyu’, yang selalu malaikat-malaikat-Mu mendoakannya, bahkan kau sebut-sebut ia di depan mahluk-mahluk-Mu “Duhai Ahli Surga…”
Ada langkah diri ini yang tak sesuai, cermat yang terabaikan, kegigihan yang terlantar menyapu sikap gesit dan tegas. Namun berulangkali  Kau beserta keagungan-Mu mengirim jutaan Malaikat-Mu agar hati ini mudah menerjemah setiap pertanda-Mu.
Masih dalam ingatan para perindu surga, sosok Da’i yang telah lama membimbimg kami dalam kelas ushul da’wah menasihati kami akan perlu cermatnya memahami Al-Quran, hadits, fiqh, dan siirah. Dengan komponen tersebut cahaya keimanan kita semakin bertambah, hidup semakin terarah bahkan tak akan ada celah-celah kebingungan. Karena seperti nasihat Ulama, seringnya karena ketidaktahuan dan kebingungan kitalah kita terjerumus pada nista bisikan syeithan. Na’udzubillahimin dzaalik.
Hari yang berlalu, Allah mempertemukanku kembali pada perjumpaan para perindu Surga. Ruangan kali itu tidak luas. Namun berjejal kami hadir untuk tentunya lebih dari sekedar rindu . Beliau dengan kerendahan hatinya Allah karuniakan kemampuan menjadi seorang novelis Islam, sutradara dan dan motivator kami. Kemampuannya merenda kata sehingga bagi saya pribadi setiap beliau berda’wah selalu ada hal baru yang padahal sebetulnya pernah kami pelajari namun serasa ada bumbu ilmu baru. Pernah tersiar kabar beliau mengisi di Bumi Gingseng, membakar semangat para ribuan hadirin yang telah dilanda kebekuan minus tujuh derajat celcius. Suhu dingin ternyata mampu beliau kalahkan. Nasihatnya sederhana namun mendalam. Dan ku mendengar lagi hari itu yang kurang lebih terdengar dihati seperti ini, “Sudah sepatutnya salah satu tugas da’wah kita adalah mengabadikan jejak-jejak perjuangan para nabi dan orang-orang shalih. Agar keturunan-keturunan kita mengetahui risalah yang benar. Karena alangkah meruginya bila tanpa sadar mereka yang membenci kita sudah mulai memalsukan berita kecil hingga berita besar. Apalagi sejarah Islam yang membuat mereka gemetar takut akan kebenarannya” Semoga diri yang lemah ini beserta para pejuang, termasuk orang-orang yang menjaga situs-situs, naskah-naskah risalah-Mu. Dan semoga kami masih memiliki usia yang berkah untuk berguru pada ustadz (hafizhahullahu) Habiburrahman El-Shirazy seperti hari itu.
Kembali lagi pada memoar detik-detik bersama pecinta ilmu (dan semoga bersama mereka menjadikan diri ini terlimpah ilmu yang berkah). Tentunya pernah bahkan sering ada ketakutan ketika hendak memahami dengan benar rangkaian bahasa arab. Terutama ilmu Ma’rifaat dan ilmu ruh bahasa . Sempat merasa tidak yakin akan lekas paham ilmu tersebut. Pernah suatu hari saya duduk di kursi yang paling belakang yaitu barisan ke lima belas. Dan saat itu ujian ilmu Ma’rifaat. Kelas memang super padat dari biasanya dan tak menduga sampai duduk terbelakang. Ternyata kelas tersebut disatukan dengan kakak kelas yang masih ada kewajiban dengan mata kuliah tersebut. Singkatnya pada saat itu haru biru menghampiri. Alhamdulillah soal-soal yang disuguhkan oleh Dosen kami adalah soal yang bisa renyah dinikmati bila sebelumnya kita latihan. Bersyukur pula pada-Nya teman seperjuangan mengajak memperdalam ilmu (semoga aku dan engkau istiqomah yaa habibty) tersebut jauh hari saat awal mengenal bab-bab baru. Darisanalah saya jatuh bangun memahami itu. Memang sangat terasa buah nasihat kakak-kakak pembimbing dan Asaatidz hafizhahumullahu. Darisanalah Allah melecut saya untuk tidak pernah takut lagi. Toh Milayaran buku pemahaman telah Dia sediakan, kakak-kakak pembimbing, teman-teman, Asaatidz bisa menjadi washilah diri kami untuk selalu paham. Apalagi tentunya Allah selalu bisa memudahkan setelah badai kesulitan menerpa. Allahumma dzakkirnaa minhu maa nasiinaa…wa ‘allimnaa minhu maajahhilna.
Belum kekagumanku selesai pada para perindu Surga, Allah menghidangkan kami muhasabah pada sebuah majelis ‘ilmu. Semakin terasa kerdilnya diri ini. Sudahkan Surga menjadi azzam setiap saat sama seperti mereka? Sudahkah amalan ini menggunung bak Abu Bakar yang dikabarkan amalannya bila dikumpulkan melebihi  Dunia? Sudahkan menjalani step by step menjadi bidadari semesta seperti hakikat penciptaan wanita yang hakiki? Sudahkah menyingkirkan batu-batu neraka jahannam dari keluarga? Sudahkah mengamalkan setiap ilmu ?
Allah bertubi-tubi Kau berikan kami nikmat-Mu.
Gemetar malu bila kebodohan kami menjauhkan kami dari-Mu.
Hilangkanlah waktu kesia-sian kami, ampunilah kami.
Cerahkanlah hati kami agar senantiasa beramal hingga ujung usia
Tuliskanlah bagi kami takdir terindah saat Kau menjemput kami.
Dan masukilah kami ke dalam Firdaus-Mu. Aamiin

Memoar dan Muhasabah menapaki cahaya di Bumi Impian,
September’2013






Baca Selengkapnya... Read More..

Rabu, 04 Juli 2012

Ketika......Cinta.....




-Ketika dalam derita…atau sepi kembara…
Dihadirkan rasa cinta… sisih segala duka
Anugerah dari-Nya (Syair Nasyid)-

Tak pernah ku sadari….. setengah abad lebih ku merawat cinta. Dan ku ingin selalu merawat cintaku selamanya kepada mereka. Wanita pertama yang bersedia mendampingiku, serta kedua anak-anakku yang selalu membanggakan.
Sudah kian lama,  rumah mungil kami sepi.  Namun, hatiku, ingatanku, tak pernah sepi dari kepingan-kepingan indah bersama mereka.  Di rudung duka? Ya. Pernah sekejap ku berduka. Disaat terlontar pertanyaan yang tiada akhir mulai berkecamuk di fikiranku. Namun, terhenyakku pada makna memiliki. Ya. Sejatinya kita tak pernah memiliki apa-apa. Kita hanya dititipi oleh Sang Maha Kuasa. Istriku, anak-anakku adalah milik-Nya. Yang entah aku siap ataupun tidak, Dia berhak mengambilnya kembali.
Bagiku, keberhargaan yang pernah Allah titipkan kepadaku sebagai seorang ayah dan suami adalah keberhargaan yang tak ternilai. Sehingga terlarut aku pada rasa maluku pada-Nya. Betapa cinta-Nya mengajarkanku bahwa sudahkah aku mencintai-Nya ? Sudah lebih dari cukup perjuanganku bersama istriku dan anak-anaku di dunia. Dan kini ku berjuang kembali dengan perjuangan yang terbaik. Sebagai tanda syukurku, tanda cintaku pada Sang Pemilik diriku, istriku, anak-anakku.
Tak pernah ku sadari…..selama ini, cinta-Nya menghuni jiwa.
- Bumi Gingseng, 2002-


Ketika tersudut sepi….dihadirkan cinta-Nya sebagai pemecah sunyi…
“….dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” QS. Qaf : 16

Ketika mendung penurut duka….dihadirkan cinta-Nya sebagai pengusap air mata
“…Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami…” QS. Fatir:34

Ketika pertanyaan tak berkesudahan mengerutkan akal fikiran…dihadirkan cinta-Nya sebagai jawab sandaran…
“…sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku”QS. Al-Baqoroh: 186

Baca Selengkapnya... Read More..

WARNA-WARNI BELAJAR DAN MENGAJAR (CATATAN PERJALANAN TRAINER-TRAINER MUSLIMAH TRACS PART 2)



-This note special dedicated to woman trainers’05 -
                         Mari kuatkan azzam, dan lihatlah asa kita tinggi menjulang. Pastilah angin badai, hujan batu kian menghadang. Untuk itu kuatkan sayap, pelajari tehnik terbang tidak hanya ke bintang.
Allahu ma’ana, Allahu syaahadana 
            Dalam balutan pakaiannya yang lebih tertutup daripada laki-laki, bukan berarti muslimah adalah mahluk yang terkunci dengan segala syari’atnya. Justru, segala yang telah diperintahkan  adalah salah satu cara melewati kehidupan ini dengan penuh keridhoan Allah SWT. Bukan agar kita menakuti hingga segala kemampuan fikriyah, jasadiyah, ruhiyah kita tidak berkembang. Apa lagi dalam menuntut ilmu, Islam adalah pendukung utama.
            Inipun dicontohkan Trainer Muslimah yang sudah sangat kita kenal.Yaitu istri Rasulullah SAW  bunda Aisyah ra. Dalam catatan sejarah, keluasan ilmu Aisyah  tidak hanya menyangkut hafalan hadits yang ribuan jumlahnya. Melalui beliau umat Nabi Muhammad memperoleh manfaat yang sangat besar atas keberkahan hidupnya. Ia adalah tempat bertanya tentang ilmu-ilmu Al-Qur’an, fiqih, syair, nasab dan bahkan kedoketran. Ia juga seorang public speaker yang fasih dan cerdas. Begitu banyak cabang ilmu yang dikuasai dan begitu matang pemahamannya, sampai-sampai Zuhri berkata, “Jika ilmu seluruh manusia dikumpulkan, kemudian ilmu para istri Rasulullah SAW juga dikumpulkan, Aisyah lebih luas dari mereka”
            Sungguh ungkapan yang menakjubkan. Tentunya semua itu berhubungan dengan realita dunia dan akhirat. Menyadari kami sebagai muslimah adalah tiang Negara dan Agama. Dan yang paling penting , muslimah adalah madrasah peradaban. Peradaban yang akan dibangun oleh anak-anak penerus bangsa. Sehingga Kecerdasan seorang Ibu bisa sangat mempengaruhi anak-anaknya kelak.
            Beragam ilmu yang telah kami kenal. Ilmu formal dan non-formal, Ilmu keterampilan, Ilmu sosial, Ilmu psikologi, Ilmu kesehatan, Ilmu ruhiyah, Ilmu Internasional dan lainnya. Setiap ilmu memiliki tantangan bagi penikmatnya. Apakah hanya sekedar pengetahuan yang masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri?. Apakah hanya sebagai pemenuh otak saja? Atau sebagai jembatan kehidupan yang perlu diyakini sekarang atau nanti akan sangat bermanfaat?Semua itu tergantung seberapa besar kedewasaaan dalam dirinya. Orang-orang yang pesimis pada otaknya dengan mengira bahwa otak akan sangat penuh bila diisi oleh ilmu-ilmu , maka akan sangat tidak bermanfaatlah ilmunya. Dan tak mungkin ia bisa mengaplikasikan dengan baik. Selain itu, otaknya tidak bisa menjadi kreatif. Seperti yang telah kita ketahui behwa kreatif adalah fikiran jernih akan memandang sesuatu dalam kondisi nyaman atau tidak nyaman. Sehingga apa yang dibilang orang lain tidak bisa, bagi orang-orang yang telah ‘mengupas’ sesuatu dengan ilmu. Maka  ia akan berteriak “PASTI BISAAA!!”. Dan ia membuktikan perkataannya itu.
            Dalam setiap episode yang telah kami lewati bersama, insya Allah sangat banyak ilmu-ilmu bermanfaat yang mencakup :
1.      Ilmu Psikologi remaja (Penting buat muslimah yang kelak menjadi ibu n_n)
2.      Ilmu Sejarah (Banyak sejarah, termasuk sejarah anak-anak luar biasa di dunia. Sehingga muslimah bisa merancang agar mengarahkan anak-anak lebih baik)
3.      Ilmu kesehatan (Kesehatan sesuai sunnah. Tak mahal. Insya Allah sehat fisik dan hati. Tidak ribet. Mudah diaplikasikan muslimah)
4.      Ilmu kepenulisan (Muslimah menulis dengan mudah. Why not?? Salah satu penulis trainer muslimah muda tracs yang akan segera menerbitkan buku adalah Asmi Kurniasih Ma’mullah. )
5.      Ilmu enterperneurship (Termasuk membuktikan mitos bahwa muslimah nggak bisa berwirausaha itu salah, agar Muslimah mandiri)
6.      Motivasi dalam hidup (Dalam materi ini, muslimah akan lebih menyadari hakikat penciptaan dan taqdir akan dirinya sehingga muslimah bisa melangkah sesuai syari’at)
7.      Dan lainnya.

Baca Selengkapnya... Read More..

Minggu, 03 Juni 2012

WARNA-WARNI BELAJAR DAN MENGAJAR (CATATAN PERJALANAN TRAINER-TRAINER MUSLIMAH TRACS PART 1)


Mari melangkah tak hanya sekedar teori
Mari terbang ke langit dunia, bukan ke langit atap rumah
Mari kuatkan pena, teruslah mewarnai hingga nisan tak hanya sekedar kematian.


            Kami tak saling memahami, awalnya. Berawal panggilan dari short message stystem akan sebuah tawaran menjadi seorang trainer. Disinilah taqdir Allah begitu indah. Waktu yang sempit, aktivitas yang menggunung, rasa takut, kurang percaya diri, ilmu yang masih secuil, atau segudang kutub negative bisa ditempuh dan dihalau disini. Di tempat yang barokah. Tempat belajar dan mengajar. Training and consulting. Apa yang dahulu menjadi gunung pertanyaan, bisa kami temukan jawabannya disini. Kenapa? Karena kami, ikhwan dan akhwat memiliki ilmu dan latar belakang yang beragam.
            Enam muslimah
Baca Selengkapnya... Read More..